Lalangsé Simpé

Lalangsé Simpé

Cerita Pondok Firda Aulia

Di ruang keluarga yang mewah dan klasik, hawa terasa tidak nyaman. Ada TV pintar, speaker nirkabel, dan AC di dinding yang sedikit melengkung, serta lampu hias antik di sisi kiri-kanan. Sofa berwarna cream dengan huruf U menghadap ke dinding TV ditutupi bantal coklat motif batik. Dinding partisi dengan motif kayu dan pot di sudut ruangan menambah suasana yang tenang. Namun, tidak ada seorang pun yang terlihat merenah. Indung Tiwi, laki-laki muda, Bapa téréna, dan laki-laki muda téréna yang elegan.

Indung Tiwi tertawa, “Mau ngobrol aja, ya?” ujarnya sambil bangun dengan gerakan yang kurang percaya diri.

Tiwi hanya menangis. Tidak lemah sama sekali.

Tiba-tiba dia menghampiri Tiwi dan mengangkat putri tunggalnya. Wajah Tiwi tampak pucat oleh rasa takut. Tapi tiba-tiba wajahnya terkena pipi Tiwi.

“Mah!” Bapa téréna berteriak, lalu menarik indungnya ke kursinya tadi. Dia duduk.

“Sabar, Mah…”

“Wirang, Pah. Wirang!”

“Gugurkan saja!” kata laki-laki itu dengan suara keras.

“Dosa! Karena Mah tidak bisa mengambil, Mah tambah dosa. Sudah lima bulan, sudah menyakitkan.”

“Terus harus bagaimana?” Bapa téréna mulai menangis, lalu menatap Tiwi, “Wi, jangan bicara seperti ini. Jika begitu tidak ada solusi.”

Lalu Tiwi mengangkat kepalanya. Melihat laki-laki yang sejak dua tahun lalu menikahi ibunya, yang sangat ingin disebut Bapa olehnya. Laki-laki yang bicaranya tidak terlalu bijaksana tapi memiliki mata yang tajam dan siap membuka segala hal dalam hidup. Laki-laki yang tampan.

“Hhh…” Tiwi mengeluh.

Dia berpindah ke laki-laki téréna. Mahasiswa kampus swasta yang ganteng, setiap pagi ingin mengantarkan ke sekolah.

“Hhh…” Tiwi bangun dengan keinginan untuk menghindari kebisingan.

Dia melihat laki-laki itu. Laki-laki satu-satunya yang tidak pernah memperhatikan kamarnya. Minta minyak teh, minta pulpen. Dan tiba-tiba, pergi ke kamar adiknya. Laki-laki yang tidak bisa menjadi laki-laki.

Tiwi tiba-tiba berteriak, “uwwooork…” lalu berlari ke kamar mandi sambil menutup mulutnya dengan tangan.

“Haram jadah. Sudah lima bulan masih juga o!” Indungnya sudah ingin menyalahkan, tetapi dihentikan oleh Bapa téréna.


Pratiwi

Sukmawati. Telah ditinggalkan oleh Bapa saat berumur tujuh tahun. Anak yang asalnya tidak pernah bahagia dan membawa kebahagiaan dari awal menjadi sedih. Itu bukanlah cara, bagi dirinya Bapa adalah satu-satunya orang, teman, dan gunung tempat berlindung. Tapi ayahnya tidak pernah ada. Ibu selalu sibuk. Jarang di rumah, sebagai sekretaris perusahaan besar. Pergi terus-menerus, kembali sudah malam. Begitu juga jika ibunya tidak ada acara rapat atau tugas ke luar kota. Saat ada di rumah, sering kali hanya bertemu sehari seminggu pada akhir pekan.

Terlalu banyak, waktu kerjanya tidak ada. Untuk Tiwi, Bapa adalah satu-satunya orang yang mengisi hidupnya. Memiliki laki-laki satu-satunya yang tidak jauh dari ibunya. Karena tidak bisa tinggal di rumah. Remaja ada di rumah, membawa teman-temannya, berkumpul, bermain, bermain rokok di Paviliun. Untuk Tiwi, jika banyak motor di halaman, sering buru-buru ke kamar. Mengganggu dirinya sendiri.

Setiap pagi pergi bersama motor dengan Bapa. Mobil milik Mamah. Dibawa ke kantor setiap hari oleh Mamah.

Setiap hari ke sekolah dengan mising, bekel sangu mendapatkan masakan Bapa, ada bibi. Istirahat meminta jajan kepada Bapa. Kembali bersama lagi meskipun Bapa selesai sekolah dua shift. Sedangkan Tiwi adalah murid kelas tiga, bagian pagi terus. Jam sepuluh sudah selesai pelajaran. Tapi Tiwi betah di perpustakaan, membaca buku-buku bacaan. Sering sampai larut malam. Tidak pernah ingin pulang.

Hingga suatu waktu, pulang sekolah. Di hari ulang tahun, Tiwi mendapat kue tart dan bungan Bapa telah janji.

“Tiwi tunggu di sini, Bapa akan pergi. Tidak lama lagi akan memesan, ambil.”

Tiwi mengeluh, terdengar marah.

Bapa pergi meninggalkan Tiwi di motor, melewati jalan yang sama, tidak bisa kembali.

Tidak lama Bapa keluar dari toko permen sambil menangis. Sambil pergi kembali, dia diberi tahu bahwa Tiwi tersenyum.

Apa itu, ada suara klakson yang sangat keras. Jegér!

Perayaan ulang tahun menuju jalan aspal. Bapa terluka karena tabrakan mobil. Dibawa ke rumah sakit dan tidak sadarkan diri.


Geus

Hampir sebulan Tiwi tidak ke sekolah, padahal minggu depan ujian. Baju yang dipakai tidak bisa dikancingkan. Cita-citanya ingin melanjutkan kuliah itu sudah rusak. Setiap kali membaca, air mata selalu mengalir melihat wajahnya yang semakin suram. Tidak bisa disembunyikan lagi.

Jika guru kelas tidak menelepon ibunya, maka tidak akan tahu kondisi Tiwi. Bahkan pihak sekolah melakukan kunjungan ke rumah, hanya ada dirinya dan Bibi.

“Kenapa kamu tidak pergi bersama Tiwi, Pa…” Tiwi menangis, memegang bantalnya. “Tiwi tidak kuat, Pa. Tidak kuat…”

Setelah menangis sampai lelah, ia berada di samping ranjang. Berbaring lama-lama. Mengeluh ke arah meja rias. Melihat wajahnya di cermin yang bersih, matanya sudah redup, wajahnya berubah.

Suara, membuka laci meja rias. Mengambil cutter. Menyayat luka yang baru. Darah segar mengalir. Clak… clak… ke lantai. Leng, tidak ingat di bumi alam.


Selengseng

bau alkohol. Merasakan badan. Menatap sekitar. Mengingat kenapa ia berada di sini.

“Wi…?” suara Dadan, laki-laki térénya.

Tiwi menutup matanya kembali. Harapan yang ingin menghilang dari wajah Dadan.

“Mamah sudah dihubungi. Katanya akan datang. Sedang dalam pertemuan.”

Tiwi tidak ingin menjawab.

“Pami Bibi tidak ke kamar saya sudah bagaimana, kaleresan Aa baru saja ke bumi. Apakah aku dengan luluasan?” suara Dadan terdengar campur aduk.

“Sudah, jangan banyak omong, Aa akan tanggung jawab,” ujarnya dengan nada kasar.

Tiwi menghirup napas, melihat pasangan mata yang hangat. Mata yang ingin sekali dikunjungi, namun sudah menjadi laki-laki.

“Wi…”

“Tidak perlu!”

“Tiwi percaya pada Aa?” tanya dengan ramo-ramo leungeun yang sudah diinfus.

Lalu luka yang diperbaiki diusap.

“Omat, jangan ada emutan ingin menyelesaikan hidup lagi!”

Tiwi terbangun dari tidurnya yang mengganggu jantung. Tapi Dadan lebih cepat menangani ramonya.

“Jangan ganggu hidup orang lain!”

“Siapa orang lain itu?”

“Mau apa lagi, jangan jadi pahlawan!”

“Lalu bagaimana dengan Tiwi?”

Jep jempling.

Pintu kamar rawat inap terbuka. Dadan mengangkat korsinnya. Tak... tuk... tak… tuk… suara sepatu pantopel menghampiri ranjang.

“Mau membuat kesedihan lagi, ya?” Indungnya tiba-tiba muncul.

“Apakah kamu bunuh diri tidak ada masalah lagi untuk Mamah? Untuk keluarga kita? Pikirkan, bagaimana rasanya orang lain jika kamu mati karena kesedihan.”

Dadan berdiri, memberi korsin untuk yang menangis.

Tiwi duduk. Matanya basah. Mamah hanya memikirkan harga dirinya. Tidak pernah sekalipun memikirkan dirinya. Tidak hanya harga diri, nyawa pun ingin dihabiskan Tiwi.

“Pokoknya jika tidak bisa bertahan, kembali ke rumah sakit langsung ke Bogor dengan Bibi. Tinggal di villa sampai mengajar. Urusan Mamah. Kamu sekolah lagi, bisa kuliah ke luar negeri. Tidak ada anak saya yang tidak memiliki ijazah SMA-SMA pun!” Indungnya mengatakan sambil keluar dari ruang rawat inap.

Jep jempling. Tidak ada yang berkata. Dadan hanya berdiri mengangkat tangan Tiwi yang lesu. Seperti dulu, sejak ulang tahun ke tujuh, Tiwi sudah tidak ada. Yang ada hanya boneka Mamah yang patuh pada semua keinginannya.

Basa lulus SMP, Tiwi yang memiliki pilihan masuk ke SMK, tetapi Mamah tidak setuju, Mamah memiliki pilihannya sendiri. SMA favorit.

Sejak awal masuk SMA Tiwi tidak memiliki teman, di sekolah favorit itu teman-temannya berisik, ini itu. Tidak bisa, tapi tidak suka. Bahkan jika terjadi masalah dengan Bapanya. Anak pengusaha, anak pejabat. Sedangkan dirinya? Milik Bapa yang sekarang.

Masuk ke SMA itu bukan keinginannya, ditambah tidak ada yang mengatakan. Tugas kelompok ke café. Tugas individu dikerjakan, hasil akademiknya turun. Tiwi yang pintar itu kini tidak bersemangat. Pergi ke sekolah hanya untuk menemui dirinya sendiri, dan tidak punya semangat. Setiap kali hanya berbaring di bawah jendela kelas. Teman-temannya sudah tahu bahwa ada murid bernama Pratiwi Sukmawati. Ada tapi tidak disebut, ada tapi tidak ada. Tidak ada perbedaan antara ada dan tidak ada.

Naik ke kelas sebelas semakin sulit. Dipanggil oleh BP beberapa kali.

“Tiwi terlihat oleh Bapa seperti ada masalah,” kata guru BP.

Awalnya tidak bisa bercerita. Tapi akhirnya juga didekati.

“Bapa sudah meninggal, bukan kesalahan Tiwi,” ujarnya sambil menangis.

Matanya mengalir air mata di pipi Tiwi.

“Sudah, terima. Sudah cukup Tiwi menghukum diri sendiri, selama bertahun-tahun tidak bisa menyelesaikan. Pasti Bapa juga akan sedih melihat Tiwi seperti ini. Jangan terus seperti ini sekarang.”

Tiwi tidak menangis, hanya mengusap air mata yang mengalir di pipinya.

“Pami ada sesuatu di sini. Kita sharing.”

Tiwi hanya mengangguk.

Sejak saat itu Tiwi memiliki teman. Termasuk menceritakan bagaimana kecemburuan Mamah menikah lagi. Tidak suka sikap Mamah terhadap Bapa téréna yang sering mengejeknya.

“Tiwi harus berusaha. Mamah adalah wanita dewasa yang memiliki kebutuhan biologis. Bukan berarti sudah meninggalkan Bapa,” ujarnya.

“Engké nanti Tiwi akan mengerti. Sekarang jangan banyak emutan, sekolah saja yang semangat, ya.”

Tiwi mengangguk. Terlalu tenang dan setiap perkataannya terasa oleh Tiwi. Bahkan ketika mengusap pipi, ada perasaan seperti Bapa.

Di luar ruang BP langit sudah gelap. Kelas sudah selesai sejak tadi. Tiwi menggenggam tasnya pergi ke gerbang.

Reg sédan hitam melambai di gerbang. Tiid… Menyapu.

Kaca depan bergerak, melihat kepala guru BP.

“Sepertinya hujannya akan menghancurkan, mencari siapa?” “Grab,” jawab Tiwi sambil naik. “Cancel saja, mari kita jalan-jalan.” “Eu…” “Mari!” Akhirnya kabandang. Hujan semakin deras. Musim hujan ini grab banyak yang pesan. “Ini akan menghancurkan. Ke kontrakan Bapa dulu, ya?” Tiwi hanya mengangguk. Kembali ke rumah tidak ada siapa-siapa. Jika tidak kembali, tidak ada yang mencari. Guru BP menyetir, belok ke kiri. Keluar dari jalan provinsi. Bus ke jalan sempit. Tidak lama reg di depan rumah kecil tapi bersih. “Mau menunggu sebentar di sini?” tanya sambil menyerahkan payung. Tiwi turun mengikuti guru BP masuk ke rumahnya. Di luar hujan semakin deras, dingin dan basah. “Lebih baik ganti seragammu,” ujar guru BP melihat Tiwi yang kedinginan, “Mau ganti dengan baju Bapa?” Tiwi tidak menjawab. Guru BP membuka payung, tidak lama kembali dengan payung kecil dan baju. Lalu baju Tiwi dibuka. Saat itu malam terasa nyaman. Setiap malam sering terbangun, merasa mati Bapa karena dirinya tidak diingat lagi. Anak remaja yang lama sendiri dengan Bapanya merasa menemukan kembali Bapa yang memperhatikan, mencintai, sering menghibur, dan berdoa sampai menangis.

0 Response to "Lalangsé Simpé"

Post a Comment