Surat mahasiswi Unima sebelum tewas di kamar kos, kronologi dilecehkan dosen: Saya jijik

Surat mahasiswi Unima sebelum tewas di kamar kos, kronologi dilecehkan dosen: Saya jijik

Kronologi Pelecehan yang Dilaporkan oleh Mahasiswi Unima

Sebuah surat yang ditulis oleh mahasiswi Universitas Negeri Manado (Unima), Evia Maria Mangolo, sebelum ditemukan tewas terungkap. Surat tersebut mengungkapkan kronologi dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh dosen kampusnya. Dalam surat itu, Maria menceritakan bagaimana ia merasa sangat tertekan dan trauma akibat peristiwa yang dialaminya.

Maria ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya di kawasan Kaaten, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, pada Selasa (30/12/2025). Ia ditemukan dalam kondisi tergantung di kamar kosnya. Awalnya, kasus ini disangka sebagai bunuh diri akibat depresi. Namun, keluarga mulai curiga setelah menemukan tanda-tanda luka di tubuh korban.

Tanda-Tanda Kecurigaan dari Tubuh Korban

Kelompok keluarga melihat adanya tanda biru di bagian kaki Maria. "Saat itulah, ada tanda biru serta tanda seperti luka," ujar Ketsia, salah satu anggota keluarga. Tidak hanya di kaki, keluarga juga menemukan diduga luka lainnya di bagian tubuh Maria, yakni di pinggang kiri dan paha atas. Karena penemuan ini, keluarga akhirnya memutuskan untuk menyerahkan kasus kematian Maria ke pihak kepolisian.

Selain itu, keluarga juga menyampaikan kecurigaan mereka terkait posisi kain di kamar kos korban. "Untuk posisi kain juga agak janggal," ujar pengacara keluarga Maria, Cyprus Tatali. Akibat dari kecurigaan ini, keluarga meminta agar jenazah Maria diotopsi.

Surat yang Menjadi Bukti

Sebelum ditemukan tewas, Maria sempat menulis surat. Surat itu ditulis pada tanggal 16 Desember 2025. Dalam surat tersebut, Maria menceritakan kronologi pelecehan yang dialaminya. Berikut adalah ringkasan dari isi surat tersebut:

  • Pada hari Jumat tanggal 12 Desember, sekitar jam satu siang, Mner Danny mengirim pesan ke Maria. Beliau bertanya apakah Maria bisa memberikan urutan kepadanya. Maria menjawab bahwa ia tidak tahu cara melakukan urutan.
  • Mner Danny kemudian berkata bahwa beliau sangat lelah.
  • Di dalam pikiran Maria, itu bukan haknya untuk melayani seperti itu. Sebelumnya, ada percakapan di chat yang mana Mner Danny berkata, "Jangan bila pa harikedua kalau mo pijit pa Mner."
  • Saat itu, Maria sedang bersama temannya Deisye. Hari kedua dan Refina Bawale sedang duduk di food court kampus. Maria memperlihatkan chat dari Mner Danny ke Deisye, dan mereka berdua menyarankan agar Maria tidak pergi. Namun, Mner Danny mengalihkan pembicaraan ke rekapan nilai, yang sebenarnya sudah selesai.
  • Meskipun begitu, Maria merasa ada yang akan diubah, sehingga ia memutuskan untuk pergi ke Mner Danny di depan parkiran kampus.
  • Sebelum pergi, Maria mengaktifkan fitur live location di grup WA miliknya dan memberi tahu temannya Radina dan Deisye.
  • Setelah sampai di tempat parkiran, Mner Danny memintanya naik ke mobilnya. Maria pun naik dan bertanya apa tujuannya. Mner Danny hanya menjawab bahwa beliau sangat lelah.
  • Maria mengirim pesan ke temannya bahwa jika mobilnya berjalan, mereka harus terus memantau posisi live location-nya.
  • Hp Maria hampir habis baterai, membuatnya semakin takut. Ia meminta temannya untuk ikut naik ke mobil jika hp-nya mati.
  • Mobil sudah jalan sampai samping pascasarjana, lalu berhenti. Mner Danny meminta Maria duduk di depan, tetapi Maria menolak.
  • Di situ, Maria mulai ragu dan takut akan tindakan yang akan dilakukan Mner Danny. Ia bilang ingin duduk di depan dengan melewati pintu saja, karena ia khawatir jika pintu dibuka, ia bisa kabur.
  • Mner Danny memaksa Maria untuk duduk di depan dengan melangkah saja. Posisi Maria pakai rok. Setelah duduk di depan, mobil jalan lagi sampai depan prodi psikologi. Di situ, Mner Danny menurunkan sedikit kursinya seperti berbaring.
  • Maria diminta untuk memberikan urutan. Ia menjawab bahwa ia tidak tahu cara mengurut. Mner Danny memberi contoh dengan mengusap-usap punggungnya.
  • Semakin tidak nyaman, tangan Mner Danny tanpa izin meletakkan tangan di paha Maria sambil berkata bahwa urut itu enaknya sambil tidur.
  • Mner Danny kembali bertanya apakah Maria tahu cara mengurut. Maria menjawab bahwa ia tidak tahu. Mner Danny menjawab, "nanti kasi ajar."
  • Mner Danny menjelaskan bahwa urut perasaan adalah urut yang akan ia pegang di area tertentu. Ia bertanya kembali, jika ia sudah salah pegang, apakah Maria akan ikhlas atau tidak. Maria menjawab bahwa Mner Danny sudah melewati batas.
  • Namun, Mner Danny hanya menjawab, "oh yang penting so kasi tau."
  • Pada hari Jumat tanggal 19, Mner Danny mengundang Maria untuk menghadiri ujian guru-guru. Maria menolak. Mner Danny berkata, "Ia kita smo menghayati kalau so satu kamar kita mo bapelo."
  • Maria merasa sudah melewati batas, tetapi Mner Danny hanya berkata bahwa semua manusia pasti memiliki kesalahan.
  • Di situ, Maria semakin benci dan tidak tahan di dalam mobil tersebut. Ia meminta pulang karena ada teman yang menunggu. Mner Danny menjawab bahwa mobil belum jalan dan bertanya apakah bisa dicium.
  • Maria menolak. Ia menangis, tetapi Mner Danny tidak melihatnya. Tiba-tiba, Mner Danny menarik pipi Maria untuk menciumnya.
  • Maria menggunakan tangan kiri untuk menutup mulutnya dan tangan kanan untuk mendorong Mner Danny. Ia berkata bahwa bibirnya tidak boleh dicium. Mner Danny menjawab bahwa itu tidak masalah.
  • Mobil jalan dan ketemu dua satpam. Mner Danny hanya menurunkan kaca mobil sedikit dan berbicara dengan kedua bapak tersebut.
  • Mner tersenyum dan berkata bahwa mereka mengira Maria sendirian, padahal Maria sedang bersama dari pukul 15.03 hingga sampai di prodi PGSD.
  • Di situ, Maria semakin benci kepada Mner Danny karena perilaku yang tidak mencerminkan seorang dosen.
  • Pada tanggal 16 Desember, Mner Danny mengirim pesan ke Maria, tetapi Maria tidak meresponsnya.
  • Bukti chat pada tanggal 12 sudah terhapus karena chat menggunakan batas waktu. Maria hanya bisa menyimpan screenshot chat tanggal 16.
  • Maria tidak bisa merekam waktu di mobil karena hp-nya hampir habis baterai. Ia takut jika hp-nya mati dan posisi hp-nya jatuh.
  • Tujuan pengaduan ini, melalui surat ini, Maria memohon agar pihak pimpinan dapat menangani masalah ini. Ia berharap Mner Danny diberi sanksi dan tidak dibiarkan orang seperti itu.
  • Dampak yang Maria alami adalah trauma dan ketakutan. Ia takut jika bertemu Mner Danny. Ia malu jika ada mahasiswa yang melihatnya turun atau naik di mobilnya, akan menjadi pembicaraan.
  • Maria merasa tertekan dengan masalah tersebut.
  • Atas perhatian dan tindak lanjut Bapak, Maria mengucapkan terima kasih.


0 Response to "Surat mahasiswi Unima sebelum tewas di kamar kos, kronologi dilecehkan dosen: Saya jijik"

Post a Comment